Bergelut dengan Kebencian
"Gugur satu tumbuhlah berjuta cinta"
Pernah dengar sepenggal kalimat dari suatu lirik lagu tersebut? Ya benar, itu adalah kalimat dari lirik lagu Semesta karya Maliq & d'essentials. Bagi yang belum pernah mendengar, saya sarankan agar bisa mendengarnya segera. Lalu apa hubungannya dengan judul saya diatas? Ya seakan spotify saya menyarankan saya mendalami lagi lagu tersebut dengan konteks yang saya ingin bicarakan.Seiring berjalannya masa dewasa muda saya yang bisa dibilang cukup stagnan ini, waktu seakan menggiring saya untuk lebih fokus dengan diri sendiri dan relasi dengan berbagai orang terkikis apabila kamu juga pengangguran kayak saya ini.
Apalagi di masa pandemi ini, saya dengan free-spirited yang sudah menjelma seakan jadi jati diri saya seakan menolak untuk lebih terlibat dengan orang lain dan sungguh merasa menang dengan comfort-zone saya. Waktu saya benar-benar hanya untuk saya dan orang yang saya ingin luangkan waktunya, mau pergi keluar dengan siapa juga terserah saya, tidak ada kewajiban untuk ikut zoom meeting, tidak ada yang menuntut saya mesti mengerjakan laporan tertentu, tidak ada goal yang harus saya capai demi orang atau lembaga tertentu. Ini benar-benar menguji diri saya sendiri saja. Hal ini tentu saya sangat syukuri dibanding kehidupan perkuliahan dan pekerjaan saya tentunya. Saya juga menyadari ini sebuah anugerah kemewahan yaitu memiliki waktu dan sumber daya yang tidak perlu saya khawatirkan. Harusnya dengan hal ini saya merasa lebih tenang bukan? Ternyata tidak juga. Kadang rasa "rumput tetangga lebih hijau" tidak ada habisnya terbesit dari pikiran saya. Mungkin karena kebanyakan waktu sendiri jadi overthinking sendiri.
Salah satu hal yang saya katakan tadi adalah relasi. Masa pandemi benar-benar menguji berapa banyak orang akan bertahan atau sekedar bertanya kabar dan siapa yang benar-benar kamu pedulikan atau orang yang peduli dengan kamu dengan tulus. Makin berumur saya mikirnya kalau tidak ada urusan yang penting-penting amat pasti tidak akan dihubungi bukan? Ya tentu saja ini terjadi. Jadi kalau kamu merasa teman baik kamu tinggal sedikit, ya bukan kamu saja yang begitu. Menurut saya inilah salah satu proses pendewasaan.
Sekian banyak relasi yang begitu bermakna atau hanya sekedar lalu tidak berkelanjutan adalah suatu proses menemukan siapa inner circle kamu. Apakah itu berarti di masa mendatang saya tidak bisa mendapatkan orang lain yang akan menjadi inner circle saya? Tentu optimisme itu ada dan pastinya akan melalui proses yang panjang juga. Kalau memang orang itu ditakdirkan menjadi inner circle kamu, secara tidak sadar kalian akan saling bergantung tanpa ada rasa pamrih atau kecanggungan.
Merenungkan terkikisnya beberapa relasi merujuk kepada peristiwa yang sudah kalian lalui bersama. Kadang saya membayangkan satu persatu orang yang sudah tidak begitu erat atau tidak kontak lagi dengan saya. Kadang rasa perpisahan itu ada yang memang waktunya tidak perlu dipertahankan karena memang tidak cocok secara baik, atau ada juga yang memang saya rasa mengecewakan hingga timbul kebencian.
Awalnya tentu ada rasa marah dan begitu banyak kekecewaan karena harapan dari relasi tersebut tidak sesuai ekspektasi kamu. Relasi ini tidak hanya sebatas hubungan romantisme, bisa juga relasi pekerjaan, pertemanan, dan sebagainya. Seakan rasa ini membara dan tak ada habisnya. Hingga berpikir bahwa mereka perlu mendapat balasan sepantasnya dari perlakuan yang mengecewakanmu. Apa itu balasan sepantasnya? Tentu saja harapan buruk bagi orang tersebut. Disinilah ego dan kebencian memuncak. Seakan kamu korban dan mereka iblisnya. Hal ini bisa terjadi sangat cepat untuk bisa pulih ataupun sangat lama, semua tergantung keputusanmu. Tentu saja siapa yang bisa selalu memiliki hati seperti malaikat? Memaafkan begitu saja dan merasa bahwa itu tidak menyakitkan. Hal ini wajar dan perlu proses pendalaman memaafkan yang begitu dalam. Inilah yang saya sebut dengan bergelut dengan kebencian.
Hingga saat ini mungkin saya kadang merindukan masa dimana relasi tersebut terasa menyenangkan tanpa ada konflik berarti. Lalu saya pikir mungkin saya terlalu fokus dengan kebahagiaan dan ekspektasi saya sendiri. Saya lebih senang memutuskan relasi tersebut karena saya merasa relasi tersebut toxic bagi saya. Kemudian saya coba menumbuhkan rasa empati dan memikirkan kemungkinan yang saya benci untuk pikirkan, bagaimana bila saya yang berada di posisi tersebut? Bagaimana bila saya terpaksa mengecewakan orang yang sudah baik kepada saya dan orang itu benci begitu mendalam kepada saya?
Dunia media sosial pun seakan memenangkan pertarungan kehidupan yang seakan lebih baik daripada hidupmu. Meski media sosial merupakan ilusi tapi rasa 'rumput tetangga lebih hijau' tidak mudah dihilangkan. Kebencian pun lebih memuncak, kali ini menyalahkan keadaan mereka yang lebih baik darimu dan merasa dunia tidak adil. Lalu saya pikir kembali, saya pernah menaruh harapan buruk bagi orang yang jahat kepada saya tersebut, apa mungkin timbal balik kepada saya?
Perlahan saya sadar, bahwa membenci itu melelahkan. Berharap yang buruk kepada orang yang saya benci merupakan karma buruk bagi saya. Itulah mengapa kadang kita harus memikirkan apa yang membatasi perkembangan diri untuk lebih baik. Salah satunya adalah rasa kebencian yang saking mengganjalnya sudah terbiasa dilakukan tapi menghambat berkat yang mestinya ada. Waktu niat tulisan dibuat inilah yang menjadi pertanda kesadaran saya bahwa sebenarnya saya begitu termakan dengan ekspektasi saya berlarut-larut. Semua mungkin memang sudah semestinya terjadi, tapi saya sudah berusaha untuk sadar bahwa saya sedang belajar mengontrol amarah dan menurunkan ekspektasi terhadap orang lain. Saya mungkin belum tentu lebih baik dari hari ini ataupun bisa lebih baik pada masa mendatang. Saya hanya perlu sadar bahwa bibit kebencian sekecil apapun kalau saya tanam dan rawat dengan baik malah akan merugikan saya. Mari perlahan hancurkan bibitnya,oke?
Komentar
Posting Komentar